Dusun Tlogotangi · Desa Sukoharjo
Portal Informasi, Pelayanan, dan Potensi Dusun.
Dusun Tlogotangi merupakan salah satu dari enam dusun (bersama Dusun Susukan, Pete, Setro, Kalangan, dan Temblangan) yang menyusun wilayah administratif Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan. Sebuah dusun agraris di mana mata air Sendang Tlogo Tangi menjadi denyut nadi kehidupan warga.
Jelajahi Dusun
Tiga hal yang membentuk kehidupan Tlogotangi
Profil & Pemerintahan
104 KK, 340 jiwa, dipimpin Kepala Dusun Bapak Sidam. Mayoritas warga petani sawah dan buruh kebun.
Lihat profil dusun →Sendang Tlogo Tangi
Mata air purba yang menghidupi sawah sekitar — pernah dipertahankan warga dari jalur tol Semarang–Solo.
Baca kisahnya →UMKM & Fasilitas
Usaha rumahan mulai merambah pemasaran digital, ditopang Pustu dan sekolah dasar di desa induk.
Selengkapnya →Potensi Ekonomi
Produk UMKM unggulan kebanggaan warga
Tahu Bakso Mbok Jiyem
Kudapan legendaris dusun dari olahan daging sapi pilihan dan tahu sutra lokal. Teksturnya yang padat kenyal di dalam dan renyah saat digoreng menjadikannya sajian favorit untuk acara keluarga hingga oleh-oleh khas Tlogotangi.
Telur Asin "Eggsploded!" by Siti Rohani
Bukan telur asin biasa! Hasil permentasi menggunakan kombinasi abu gosok dan garam beryodium tinggi yang meresap sempurna. Kuning telurnya yang masir dan berminyak siap "meledakkan" cita rasa gurih di setiap gigitan.
Inovasi & Program Kerja
Digitalisasi E-Waterbill: TirtaTangi
Warga Tlogotangi terus bergerak maju dengan mengadopsi teknologi tepat guna. Salah satu karya unggulan dusun adalah TirtaTangi, sebuah aplikasi web untuk pencatatan meter air secara mandiri (E-Waterbill).
Sistem ini diinisiasi untuk mempermudah pemantauan penggunaan air dan menciptakan transparansi iuran secara digital, yang bisa diakses dengan mudah oleh warga kapan saja melalui ponsel mereka.
Solidaritas Warga
"Jalur fisik jalan tol digeser demi menjaga mata air tetap hidup."
Saat Jalan Tol Semarang–Solo direncanakan melintasi kawasan ini, keberadaan Sendang Tlogo Tangi sempat terancam. Warga bersatu mempertahankan mata air purba tersebut, hingga akhirnya jalur tol digeser dan sendang tetap lestari sebagai sumber pengairan sawah hingga kini.
Baca kisah lengkapnya